Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Desember 2014
Diposting oleh
Khamdanah
Mengapa hujan selalu datang tanpa tanda?
Datang tanpa dimengerti
Mengubah tanda kenangan dan harapan
Bersemi di balik rimbunan dedaunan
Hujan kembali datang
Bersama ingatan yang belum terlupakan
Bersama sakit yang masih tertinggal
Dua musim menjelma karang
Tentang hujan.
Mengapa hujan selalu datang tanpa tanda?
Datang tanpa dimengerti
Mengubah tanda kenangan dan harapan
Bersemi di balik rimbunan dedaunan
Hujan kembali datang
Bersama ingatan yang belum terlupakan
Bersama sakit yang masih tertinggal
Dua musim menjelma karang
Tentang hujan.
0 komentar Label: Puisi
Sabtu, 29 November 2014
Diposting oleh
Khamdanah
Mengingat
Waktu yang kemudian marah
Semua jalan yang pernah kita susuri
Ku hafal dengan indah
Sajak-sajak penantian
Dalam getar baramu
Akhirnya, kulihat jua tangis yang tak sempat dihapus
Mengeras dalam dua musim dingin
Dan aku tak menafsirkannya sebagai "Ketiadaan"
Mengingat
Waktu yang kemudian marah
Semua jalan yang pernah kita susuri
Ku hafal dengan indah
Sajak-sajak penantian
Dalam getar baramu
Akhirnya, kulihat jua tangis yang tak sempat dihapus
Mengeras dalam dua musim dingin
Dan aku tak menafsirkannya sebagai "Ketiadaan"
0 komentar Label: Puisi
Diposting oleh
Khamdanah
Tentang waktu yang tak dapat dipersalahkan
oleh : Khamdanah
Bukankah waktu tak dapat dipersalahkan?
Tentang kita yang tak dapat melupa
Terpisah aspal-aspal panas
Dan penjaga malam telah siap berperang
oleh : Khamdanah
Bukankah waktu tak dapat dipersalahkan?
Tentang kita yang tak dapat melupa
Terpisah aspal-aspal panas
Dan penjaga malam telah siap berperang
Suatu pagi kita kan bertemu
Dengan gerimis semu
Layak senin sore itu
Dengan teduh dalam senyummu
Bukankah merindu tak dapat dipersalahkan?
Tentang jiwa yang menggema
Dan melukai teleportasi waktu
Satu windu tak berkutik
Terjebak dalam dagu manismu
Dengan gerimis semu
Layak senin sore itu
Dengan teduh dalam senyummu
Bukankah merindu tak dapat dipersalahkan?
Tentang jiwa yang menggema
Dan melukai teleportasi waktu
Satu windu tak berkutik
Terjebak dalam dagu manismu
0 komentar Label: Puisi
Jumat, 31 Oktober 2014
Kunang-Kunang
Diposting oleh Khamdanah
Kunang-Kunang
Kau memang bukan bintang berkelap di atas sana
Menerjap seakan menerangkan bumi yang tengah gelap
Dan terlelap dalam kesadaran ilusi
Bintang akan sempurna ketika sang aurora berpancar di kutub utara
Dengan sabitnya bulan yang membentang di antara ribuan bintang-bintang yang berpijar
Kau memang bukan bintang
Hanya kunang-kunang
Menampakan wujudmu saat kerinduan bertaut di antara ribuan cinta
Menjadi pemandu jalan bagi mereka yang tersesat di antara cinta yang salah
Kunang-kunang terbang bebas di antara langit yang gelap dan ribuan kemerlap bintang
Kunang-kunang
Cukup tautkan tangan, maka tujuh kunang-kunang akan bercahaya
Tetaplah menjadi kunang-kunang walau kau bukan bintang
Cukup dengan tujuh kata, percayalah...
Telapak tanganku kan terulur
Tuk menutup kunang-kunang
Dan membiarkannya bercajaya
Di sana
Ditanganku
0 komentar Label: Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)



