Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Desember 2014



Topeng kopi
oleh: Khamdanah



“Le, kamu yakin tidak mau sekolah? Lah kamu mau jadi apa nanti? Mau jadi petani? Duh Le... hidup kita sudah susah, biar saja bapak kamu yang nyangkul, lah kamu jangan ikut-ikutan nyangkul. Sudah jamannya maju ko mau mundur saja” mendengar kata-kata itu, kembali kebimbangan menerpaku, memalingkan setiap pilihan yang aku ambil, kemudian melemparkannya jauh. Wanita dengan usia hampir seabad itu, kulitnya tertutupi keriput-keripun manja yang selalu mengikutinya setiap waktu. Menjadi saksi perjalanannya, saksi bisu hidupnya yang juga tak mulus, seperti kulitnya.
Biji-biji kopi terjatuh dan berdenting, seirama nyanyian alam yang lembut. Kabut masih menutupi setiap lekuk rumbia-rumbia yang lembab karena siraman hujan semalam. Derik-derik setiap pintu lusuh yang termakan waktu, menjadi saksi bisu setiap perjuangan.
***
Malik Sulistyono, mahasiswa terbaik dan lulusan tercepat. Ya, itu aku. Perjalanan memang tak selamanya menyenangkan, tapi yakinlah dari setiap hal yang menyakitkan akan ada keindahan yang tersimpan rapi.
***
Desa Rahtawu Dukuh Semliro RT 1 RW 4 Kecamatan Gebog Kab Kudus. Di sanalah aku tinggal, bersama pohon-pohon kopi yang tumbuh bersama angin yang menyapu helai daun kering. Terlepas dari dahan yang menyangganya selama beberapa waktu lalu yang kemudian melepasnya dengan keikhlasan yang terdalam.
Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku memiliki seorang adik laki-laki. Ayahku adalah seorang yang bekerja apa saja, terkadang dia menjadi petani dan ada kalanya ia menjadi pekerja perkebunan kopi. Ibuku sudah lama meninggal, ia adalah wanita yang sangat aku banggakan selain nenek yang merawatku sepenuhnya. Menurut cerita tetangga, ibuku adalah orang yang rajin dalam bekerja, ia tidak malu ataupun menutupi keadaannya. Seorang yang memberiku semangat untuk terus berjuang. Satu kenanganku yang masih kuingat dengan jelas adalah ketika aku membantunya mengangkut biji-biji kopi, dengan tubuhku yang kecil aku harus membawa beban hampir dua kali lipat dari beban badanku.
“kalau kamu mau jadi orang sukses, jangan setengah-setengah jika bekerja. Berat ya memang berat, itu yang namanya hidup. Apa-apa jangan dijadikan beban. Jangan mengeluh sama nasib, dijalani saja yang penting berusaha dan berdoa” tutur ibuku dengan sangat bijaksana. Rangkaian kalimat itulah yang selalu menjadi pemicu untukku belajar, meskipun sempat terhenti sekolahku selama tiga tahun. Aku akhirnya menyadari bahwa perjuanganku masih panjang dan terlalu dini jika aku berhenti saat ini.
***
Suatu pagi dengan senyuman hangat sang mentari, sebagian besar masih tertidur lelap karena hawa dingin yang masuk ke setiap tulang-tulang kering yang kelelahan. Menjadi saksi bisu dalam sebuah perjalanan panjang.
“Sudah saya jelaskan Mas! jika ingin mendaftar, pakai seragam yang ditentukan. Silahkan pulang! Antrian masih panjang” petugas pendaftaran siswa baru menjelaskan kepadaku dengan agak kesal, tatapannya seperti singa yang kelaparan.
“Tolong lah Bu.. saya sudah tidak punya seragam lagi” bujukku dengan sedikit memelas. Namun, tak memberi efek apapun pada wanita itu.pertahannya sangat tangguh, bahkan untuk sedikit iba dengan keadaanku ini.
Jadi seperti inilah keadaan orang-orang yang terkatung nasib dan salah siapa jika seperti ini? Aku akan mengerti jika ada penjelasan atas semua ini. Semakin kupaksa diri untuk mengerti, semakin aku tidak mengerti atas percobaan mengertiku.
Terusir sekali dan terusir kembali, tidak membuatku patah semangat. Aku buktikan dan kembali membuktikan. Memangnya kenapa? Karena penyesalan bukan seleraku.
Lama menunggu dan tak ada perubahan apapun, aku tetap tidak diperbolehkan masuk dan mendaftar. Bahkan sekadar untuk mengisi formulir saja sepertinya aku tak diizinkan, dengan alasan karena aku tak memakai seragam. Aku memang sudah tak memiliki seragam. Seragam SMPku entah ke mana, karena aku berhenti sekolah selama 3 tahun dan aku memang sebenarnya pernah berpikir untuk tak melanjutkan sekolah lagi. Karena lelah, kuputuskan untuk duduk di dekat gerbang sekolah. Seorang lelaki paruh baya menghampiriku.
“Sedang apa nak? Mengapa duduk sendiri di sini?” Dia bertanya padaku dengan nada lembut.
“Saya ingin mendaftar sekolah pak. Tetapi seragam SMP saya sudah tidak ada, saya tidak diizinkan mendaftar tanpa seragam” jawabku padanya.
“Pulanglah nak, pinjam seragam sama temanmu. Nanti ke sini lagi ya. Biar saya urus semuanya” seperti mendapat sebuah pencerahan, seperti melihat sebuah celah ruang dalam ruang yang lama tak berpenghuni. Aku segera berlari menuju ke rumah salah seorang temanku. Meskipun perjalanan menuju rumah temanku sangat jauh, tidak mengapa untukku. Rasa lelah ini tak berarti. Aku hanya berlari dan tak memikirkan apapun.
***
Aku lulus SMA dengan nilai yang sangat memuaskan. Seseorang yang membantuku ketika pendaftaran adalah seorang kepala sekolah, ternyata takdir berbaik hati padaku. masa-masa SMA aku lalui dengan semangat belajar, mendapatkan nilai yang memuaskan. Bahkan, beberapa guru sempat tak mempercayaiku, bagaimana seseorang yang sempat berhenti sekolah selama tiga tahun bisa mengikuti pelajaran dengan baik? Namun, semuanya kubuktikan dengan kerja kerasku. Masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri dengan beasiswa penuh. Mengambil konsentrasi Pendidikan Seni Rupa. Aku tidak tinggal di kost seperti mahasiswa pada umumnya, aku menjadi seorang takmir masjid. Membersihkan lingkungan masjid, azan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kegiatan masjid dan aku diizinkan tinggal di masjid bersama beberapa mahasiswa lain tanpa harus membayar biaya sewa kamar. Pekerjaan apapun akan aku lakukan, bahkan jika ada beberapa dosen yang memintaku untuk mengecat rumah ataupun mencangkul lahan atau bahakan sekadar membersihkan rumahnya, akan aku lakukan dengan senang hati. Berharap mendapat beberapa tambahan untuk kuliah karena aku tak mau membebani keluargaku.
Tiga semester berlalu, setelah kupikirkan matang-matang. Kuputuskan untuk berhenti menjadi takmir masjid. Bukan karena aku lelah ataupun bosan, melainkan karena aku mengingat permintaan terakhir dari ibuku untuk menjaga Jihad Amri, satu-satunya adik yang kupunya. Semenjak kepergianku ke perantauan untuk mencari ilmu, adikku menjadi anak yang seperti tidak memeiliki didikan, bermain dengan anak-anak nakal yang tak bersekolah, ikut-ikutan geng motor yang tak jelas tujuannya, bahkan sekolahpun dia tak minat. Beberapa tetangga bahkan mengatakan kepadaku, meskipun kami adalah kakak beradik, tetapi kami sangat berbeda, bagaikan bumi dengan langit. Aku tak merasa senang dengan perkataan itu, bukan sebuah pujian tetapi sebuah tamparan keras untukku. Bagaimana mungkin aku mencari ilmu dengan tenang sedangkan adikku tak jelas tujuan hidupnya. Karena itulah kuputuskan untuk berhenti menjadi takmir tak tinggal di kost biasa agar aku bisa leluasa pulang ke rumah dan memantau adikku. Dengan susah payah kuatur waktuku agar dapat pulang kerumah sesring mungkin, memberikan yang terbaik untuk keluargaku. Namun, sepertinya adikku tak berpikir demikian
“Tak usah pulang Kang, buat apa? Aku ini bodoh. Sudah terlanjur bodoh, aku malas tak seperti akang. Biar saja begini” opini remaja belasan tahun yang belum tahu kerasnya dunia.
“Akang memikirkan ibu! Coba pikir bagaimana sedihnya ibu jika tahu anaknya seperti ini. Bukan Cuma akang dan para tetangga yang kecewa. Tapi almarhumah ibu juga” balaskun kecewa.
Dengan amarah yang menggebu, ku lajukan motorku menuju ke kota perantauan. Aku tak mengerti jalan pikir Jihad, menelisik perjuanganku untuk dpaat bersekolah, dia benar-benar tak bisa kupahami.
Silau lampu di tengah jalan yang sedang bermandi gerimis membuatku tak dapat melihat dengan baik. Aku tak dapat merasakan apapun ketika cairan kental berwarna merah mengalir hangat di pelipis dan kakiku. Aku tak ingat apapun lagi.
***
Jalan akan selalu ada, tak peduli seterjal apa jalan tersebut akan membawa kita menuju tempat terindah. Semenjak kecelakaan itu, Jihad mau mendengarkan perkataanku. Ia belajar dengan rajin dan berhenti bermain dengan geng motornya. Nenek dan ayahku sangat bersyukur, meskipun keadaan ekonomi keluarga kami hanya pas-pasan. Jihad bahkan sudah merencanakan untuk masuk ke salah satu universitas yang ia inginkan. Membuatku semakin semangat mengejar cita-citaku. Melanjutkan studiku ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
***
Malik Sulistiyono, pengusaha topeng kopi Desa Rahtawu Dukuh Semliro RT 1 RW 4 Kecamatan Gebog Kab Kudus. Memiliki tempat kerajinan dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.  Membawa nama harum bagi keluarga, bagi setiap biji-biji kopi yang memerah ditangkainya. Dirangkai menjadi sebuah cerita indah dan elok layaknya topeng kopi.
 

Jumat, 31 Oktober 2014

Salam Perpisahan



Salam Perpisahan
Oleh : Khamdanah

Hari ini aku mengikuti tahap tes wawancara, aku mengikuti seleksi beasiswa ke salah satu universitas di Amerika. Iya, pilihan yang aku pilih mungkin agak membingungkan. Bahkan aku sendiripun bingung dengan keputusanku ini. Sebenarnya aku tak benar-benar berniat pergi. Semua berawal dari rasa jenuhku dengan hubungan ini.
***
Waktu menunjukan pukul 05.00 pagi. Tiba-tiba Hana muncul di kamarku saat itu, kulihat wajahnya pucat. Namun, ia tersenyum manis padaku. “kau tidur seperti tak akan bangun lagi! Hingga aku takut melihatmu tidur...” ucap Hana padaku yang baru membuka mata. Aku tak menjawab apapun, kemudian aku bangkit dan ku ambil handuk yang tergantung di dinding. “apakah kau akan pergi?” Hana bertanya padaku. Kali ini aku benar-benar tak bisa mengabaikannya. “aku akan mengurus beberapa surat untuk keberangkatanku ke Amerika” kujawab pertanyaannya sambil berjalan menuju ke kamar mandi. Hana meletakkan beberapa tangkai bunga dalam vas di meja, ia memang selalu melakukan hal itu sejak empat tahun yang lalu.
Hana masih duduk di kursi ketika aku meninggalkannya di rumahku. Ia terlihat baik-baik saja. Ketika aku duduk di dalam bus tiba-tiba ponselku berdering.
Mama Maya called
Setelah kulihat ternyata itu adalah telfon dari ibu Hana, bergegas kuangkat karena kukira ada hal yang sangat perting yang ingin beliau bicarakan padaku. Kudengar tangisnya yang lirih namun menyayat hatiku. Bergegas aku turun dari bus dan berlari menuju rumahku. Kubuka pintu dan kucari Hana kesetiap sudut ruangan. Dan tidak kutemukan.
Aku masih tak percaya. Aku merasa bahwa semua ini mimpi dan aku berharap semoga ini memang mimpi. Hana yang pagi ini tersenyum padaku, kulihat tubuhnya terbaring koma di salah satu ruang rumah sakit. Aku tak percaya ini. Siapa yang tadi menemuiku? Apa maksud semua ini? Semakin kupaksa otakku berpikir semakin aku merasa tak dapat bernapas. Tubuhku bergetar. Dan air mata ini menetes.
***
4-5-10
Hari ini aku benar-benar lelah dengan rutinitas kerjaku. Penat meremuk tubuhku, aku ingin sejenak melepas lelahku. Akhir-akhir ini kulampiaskan kekesalanku dengan kebiasaan baruku yaitu merokok. Meski kutahu seseorang melarangku melakukan ini, tak ada alasan lain bagiku untuk mengikuti perkataanya. Karena akupun lelah dengannya. Lama ku cari benda yang aku butuhkan. Tak tak kutemukan satupun, yang  kutemukan hanyalah catatan kecil dalam lokerku.
sayang, apakah kamu mencari korek api? Kamu akan merokok? Lihat mukamu dikaca, pasti memerah. Maafkan aku. Aku sembunyikan semua korek api yang ada di rumahmu agar kau tak dapat merokok.
Sayang, dulu aku sering menerima kejutan darimu, kado yang kamu beli dari uang yang kamu kumpulkan saat itu, karena kamu berhenti merokok. Namun, sekarang aku jarang melihatmu melakukannya.
Aku rindu.
I Love You
Hana
***
Malam ini aku berjanji akan menemui Hana disalah satu restoran langganan kami berdua. Itu dulu, sebelum aku merasa jenuh dengan perjalanan cinta kami. Waktu empat tahun bersama yang seharusnya membuatku tambah mencintainya, justru membuatku merasa bosa dengan rutinitas kami berdua. Aku yang tak dapat menemukan sesuatu yang mungkin banyak orang sebut sebagai inovasi.Namun, sebaliknya dengan Hana, ia benar-benar wanita yang sangat setia dan perhatian. Meskipun aku mengabaikannya akhir-akhir ini, ia tetap dengan sabar menungguku di tempat itu.
23.30
From : Hana :*
Sayang J kamu pasti sibuk ya? Aku sudah menunggumu empat jam di sini.
Sebenarnya agak risih juga si, hehe.. untung pelayannya baik ya jadi aku ga diusir
Aku pulang sendiri yang
Kamu jangan lupa istirahat ya J miss you
Pesan yang dikirim oleh Hana ke ponselku benar-benar aku abaikan. Entah apa yang aku pikirkan, aku merasa Hana hanya membatasi kebebasanku. Membuatku tak dapat berkutik bahkan hanya untuk bernapas. Terkadang aku merasa bahwa tindakanku salah, aku tak sepantasnya mengabaikan Hana hanya karena aku jenuh dengannya.
“hey!! Cewek sebaik itu lu sia-siain?” Olan tiba-tiba merangkulku dari belakang, mengagetkanku dan aku terperanjat melepas lamunanku tentang Hana. “ini bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan mudah. Lu ga ngerti apa yang ada dipiran gue Lan” bantahku kepada Olan yang sejak tadi memandangku dengan tatapan buas. “jelas gue ga ngerti, karena gue bukan lu. Gue bukan orang yang akan nyia-nyiain cewek sebaik Hana, cewek yang setia dan sayang banget sama lu. Gue ga tahu apa yanglu pikirin, yang jelas kalo gue jadi lu... gue ga akan sebodoh lu!!” kemudian Olan pergi ke meja kerjanya. Malam ini kami lembur berdua. Aku dan Olan membisu dalam kedinginan malam, kami hanyut dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku benar-benar mengerti apa yang dikatakan oleh Olan, dan ia memang tak salah mengatakan hal itu. Tapi, sepertinya Olan memang tak mengerti sedikitpun apa yang aku pikirkan. Ia tak mengerti apapun tentang diriku dan perasaanku. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku hanya lelah.
***
Hana dan Sania sedang duduk di salah satu bangku di taman kota. Mereka memang sengaja untuk bertemu, Sania adalah sahabat Hana sejak mereka duduk di bangku SMP. Hana menceritakan semuanya tentang perubahan sifat Haikal. “sudah jelas Haikal ga sayang sama kamu lagi Han, mungkin Haikal minta putus sama kamu Cuma dia cari-cari alasan supaya dia bener-bener bisa pisah sama kamu. Percaya deh sama aku, kamu itu baik Han, kamu cantik, masih banyak cowok di luar sana yang mau sama kamu. Jangan sia-siain waktu kamu Cuma buat cowok kayak Haikal, aku ga suka” Sania menjelaskan panjang lebar kepada Hana, berharap Hana akan mendengarkan dan melaksanakan nasihatnya. Namun, sepertinya hal itu sia-sia. Karena Hana bukanlha tipe orang yang akan rela meninggalkan seseorang yang sangat ia sayangi. Hana sudah bertekad bahwa ia akan tetapmenjaga hubungannya dengan Haikal. Ia percaya bahwa Haikal sebenarnya sangat menyayanginya. Hanya saja mungkin untuk saat ini Haikal masih sibuk dengan pekerjaannya sehingga menyita waktu bersama Hana.
***
Aku duduk di samping tempat tidur Hana, memegang erat tangan Hana yang pucat itu. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Dalam hati aku berteriak, bahwa semua ini hanyalah ilusi, hanya sebuah mimpi. Dan saat terbit fajar maka Hana akan kembali lagi. Namun, yang aku harapkan tidaklah terwujud. Hana tetap terbaring dan menutup matanya. Hana tak dapat bergerak bahkan hanya untuk sekadar membuka matanya. Aku sangat menyesal atas apa yang ku lakukan selama ini, seandainya waktu dapat kembali. Aku ingin mengatakan kepada Hana bahwa aku juga sangat menyayanginya. Dan aku menyesal.
Aku kembali ke kamarku. Kubuka pintu dan aku terhuyung ke tempat tidurku. Kepalaku terasa berputar, aku tak dapat berpikir apapun. Aku terpejam.
Saat aku membuka mata, aku melihat Hana sedang merapikan kamarku, seperti biasa ia membawa setangkai bunga dan meletakannya di vas yang dulu ia berikan kepadaku sebagai hadiah. Ia tersenyum melihatku membuka mata, dengan tatapannya yang manja. Hana memakai gaun putih yang cantik, wajahnya sayu. Aku masih tak mengerti dengan semua ini, sebenarnya apa yang terjadi? Aku bangun dan kusingkapkan selimutku, kuhampiri Hana yang masih berdiri disudut kamar. Aku memeluknya erat, kukatakan padanya bahwa aku benar-benar tak ingin ia pergi. Hana menatapku erat, seolah-olah ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, tak kudengar sepatah katapun dari mulutnya. Sekali lagi, Hana hanya tersenyum manis.
Setelah memcuci mukaku, aku duduk bersama Hana di ruang makan, aku bertanya padanya apakah dia baik-baik saja, dan Hana mengangguk pelan. Saat aku bertanya “dengan apa kamu bisa ke sini sayang?” Hana tak menjawab, ia berdiri dan berjalan ke arah jendela. Kemudian Hana menunjuk ke arah luar, setelah ku lihat di luar sana terparkir sepeda yang biasa Hana gunakan. Hana memang suka bersepeda. Nampaknya Hana ingin menjawab semua pertanyaanku tanpa ia mengeluarkan sepatah katapun.
Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ada dikepalaku ini. Aku tak dapat mengartikan perasaan apa yang sedari tadi mengetuk-ketuk hati ini. Disatu sisi aku ingin mendapat jawaban dari mulut kekasihku itu, mengenai sebenarnya apa yang terjadi padanya. Di sisi lain, saat ini aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengannya. Waktu yang mungkin tak dapat kumiliki lagi bersamanya.
Hana menggandengku pelan, nampaknya ia ingin membawaku ke suatu tempat dan kami tiba disebuah taman kecil dipenuhi bunga. Kepalaku semakin pening, jantungku berdetak kencang. Apa yang sebenarnya terjadi? Akan ada apa setelah ini? Akankah Hana teteap bersamaku? Seketika itu air mataku menetes pelan. Hana menyeka air mataku. “jangan menangis, ini bukanlah sebuah perpisahan sayang. Ada banyak hal yang sebenarnya masih ingin aku lakukan bersamamu. Tak perlu bersedih, ingatlah bahwa dengan hati yang gembira semuanya akan jadi mudah. Aku akan selalu hidup dalam hatimu. Berjanjilah padaku, ada atau tidak aku di sisimu, kau akan tetap tersenyum. Berjanjilah sayang” Hana menatapku, aku tak dapat mengatakan apapun, tubuhku terasa terpaku.
Telepon berdering, aku terbangun dari tidurku. Dan Hana... tak ada.
***
“sudahlah.. nak Haikal tak perlu menyesal. Mungkin ini memang takdir putriku, putriku yang malang” Ibu Maya menyeka air matanya. “ibu yakin bahwa Hana pergi dengan bahagia, ia pergi dengan damai” aku tak membalas ucapan Ibu Hana, semua ini masih terasa seperti mimpi untuku. Dan apakah aku harus memaksakan diri untuk bangun agar Hana dapat kembali?
***
Setelah menungguku lama dan aku tak menemuinya, Hana memutuskan untuk pergi ke rumahku, dengan sepeda kesayangannya, ia mengayuh sepeda dan membawa setangkai bunga yang akan ia letakan di vas kamarku. Seperti yang biasa ia lakukan. Dengan senyum ceria ia terus mengayuh, tak menyadari bahwa dari arah yang beralawanan sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Sepeda itu hancur, dan bunga indah itu layu sebelum waktunya. Hana.. hanya Hana.

Inter Arma Caritas (Versi 2)

Inter Arma Caritas (Versi 2)
Oleh : Khamdanah



Inter arma caritas!!” teriak kami bersama-sama.
Solverino” terdengar jawaban dari jarak 100 meter. Kami melanjutkan perjalanan, meskipun lelah kami tetap berjalan. Tanpa sadar aku melamun
Siamo!!!” suara lantang dan membuyarkan semua lamunan.
Siamo....” jawab kami bersama-sama.
***
“Bu, tolonglah.. satu lagi, hanya satu lagi” pinta Rana merengek. Tapi sepertinya ibu tersebut tak mendengarkannya sama sekali.
“Maaf mbak, saya harus mengantar anak saya latihan tari sekarang, silakan cari tempat lain” kemudian pemilik tempat fotokopi itu bergegas berkemas dan mengambil kunci pintu. Aku hanya tertunduk lemah, cocard yang harus aku bawa untuk penerimaan calon anggota sebuah UKM di sebuah universitas, belum selesai ku buat, ibu fotokopian itu tidak mau menerima permintaan laminating cocardku. Disudut ruangan kulihat lelaki itu memegangi cocard miliknya dengan wajah lesu.
“Apa benar-benar tidak bisa Bu?” tanya lelaki itu pada ibu pemilik tempat fotokopi. “dia mengatakan hal yang sia-sia!” batinku berteriak.
“Duh Mas.. Mas.. kan sudah saya jelaskan tadi sama mbaknya, saya tidak bisa. Silahkan cari tempat lain”. Jelas ibu itu dengan nada kesal.
“Yasudah Bu terimakasih” ucapku datar menimpali percakapan mereka.
“Iya mbak, mas, sekali lagi saya minta maaf” ibu pemilik foto kopi kemudian mengambil tasnya dan bergegas keluar, kami berdua mengikutinya dari belakang.
Pada akhirnya kami gagal membujuk ibu pemilik tempat fotokopi untuk melaminating cocard kami. Tanpa sengaja, kuamati cocardnya dan sama persis dengan milikku. Hanya saja ia belum memakai pakaian yang sudah ditentukan oleh panitia. Tanpa pikir panjang aku mengajukan pertanyaan padanya
Cocard kita sama, apa kau juga calon anggota?” tanyaku padanya
“Iya” jawabnya singkat dan tersenyum manis, jika dilihat-lihat dia adalah lelaki yang manis. Tapi, bukan saatnya untuk berpikir demikian pada saat genting seperti ini, sekarang menunjukan pukul 07.13 dan aku harus sampai di tempat perkemahan pada pukul 07.30. sudah tidak ada waktu lagi bahkan untuk sekadar melamun.
“Yuk cari tempat fotokopi lain” ucapku sambil menarik lengannya, lelaki itu terlihat canggung, ia tak beranjak dari tempatnya berdiri.”ayuk, kita akan telat jika tak bergegas! Apa kau ingin dihukum?” timpalku lagi.
“Oh.. iya” dia melangkah dan menarik lenganku. Simpulannya? Mengapa kami berdua menjadi saling tarik menarik lengan? Pikirku dalam hati.
Lelaki itu ternyata membawa motor, tanpa pikir panjang aku langsung duduk di belakangnya, ia tampak bingung kembali. Aku tak menghiraukan, kukatakan padanya bahwa sebaiknya dia bergegas mencari tempat fotokopian. Mungkin dia berpikir bahwa aku adalah wanita yang aneh, membonceng seorang lelaki yang bahkan belum tahu namanya itu. Tapi ini adalah keadaan mendesak, aku tak memikirkan hal-hal lain selain aku sampai di tempat itu dengan tepat waktu. Dalam perjalan lelaki itu bercerita bahwa ia sudah mengelilingi lingkungan kampus dan tidak menemukan satupun fotokopian yang buka karena tempat fotokopi memang buka agak siang, sehingga kami harus mencari ke tempat yang lebih jauh lagi. Setelah berkeliling, pada akhirnya, kami menemukan tempat fotokopian yang baru saja dibuka. Kami selamat dari bercana, setidaknya untuk saat ini. Sambil menunggu cocard selesai dilaminating, aku memulai percakapan dengannya.
“Mengapa kau tidak memakai pakaian yang ditentukan? Sebaiknya kau menggantinya sekarang, masih ada waktu!” ucapku dengan maksud sedikit memberikan solusi.
“Tak apa, nanti saja aku menggatinya” jawabnya dengan muka misterius.
“Tapi kau akan telat!” aku tak ingin kalah beradu argumen saat ini.
“Bukankah anak lelaki sebaiknya telat?” jawaban singkat dan menyakitkan. Aku tak dapat berkata-kata lagi. Alih-alih memalingkan wajah memandangi mas-mas tukang fotokopi.
“Bolehkah aku memintamu mengantarku?” kali ini aku memintanya dengan tulus. Aku hanya tidak ingin telat, hanya itu yang ada dalam pikiranku saat itu.
“Baiklah..” lelaki itu menjawab dengan wajah datar, entah ia rela atau tidak, aku tidak peduli. Aku hanya ingin cari aman.
“Sungguh? Terimakasih...” kemudian dia mengantarku. Sesampainya di gerbang universitas, aku turun dari motornya, sebelum dia pergi kuucapkan kata terimakasih untuk kedua kalinya, setidaknya dia telah menyalamatkanku dari hukuman para senior yang galaknya melebihi satpam kampus dan sensitifnya melebihi ibu-ibu yang sedang mengendarai motor di jalan, membunyikan klakson setiap waktu, entah apa alsannya. Namun, itu sangat menggangu.
“Aku Rana” aku memperkenalkan diri karena sedari tadi dia tidak mengajakku berkenalan, sehingga aku mengeluarkan inisiatif  ini.
“Rangga..” dan kemudian kami berpisah di sini.
Meskipun pada akhirnya kami akan sering bertemu. Namun, semua diawali dan diakhiri di sini.
***
Kami adalah sukarelawan, kamilah Korp Sukarela atau biasa dipanggil KSR. Kami membantu orang-orang yang memerlukan bantuan, kami tidak dibayar. Kami melakukan semua dengan sukarela, berharap keadaan akan membaik jika kami ada. Kami membawa prinsip-prinsip kemanusiaan, kami beranggapan bahwa manusia adalah makhluk sosial, kami semua sama, kami semua rata, karena itu kami wajib membantu sesama yang membutuhkan bantuan kami.
Kami menyalurkan bantuan dari tangan-tangan yang peduli dengan saudara-saudaranya yang sedang membutuhkan bantuan. Kami adalah salah satu jalan diantara jalan-jalan yang saling berhubungan, menghilangkan jarak yang berarti dan menenggelamkan kecanggungan atau intimidasi sosial. Sekali lagi, kita semua sama rata, kita semua adalah saudara.
***
“Jangan manja!! Kalian ini calon penolong!!! Bukan orang yang harus ditolong! Camkan itu dalam-dalam dipikiran kalian!” bentak senior yang menjabat sebagai koordinator lapangan yang horornya seperti tokoh Dugong dalam cerita Putri Duyung, begitulah pikirku. Bagaimana tidak, ia membentak tepat ditelingaku hingga rasanya telingaku berdenging seketika itu dan masih dapat merasakan dengingan di telaku hingga beberapa hari kemudian.
“Hey! Kamu lari cepet! Baru lari di medan biasa saja ngeluh! Gimana kalo ke medan bencana! Dipikir! Kalo tidak siap pulang saja sana! Manja!!!” bentak Dugong-dugong yang lain. Dugong-dugong yang memiliki pemikiran dan maksud serta tujuan yang sama, yaitu menyiksa juniornya, merasa dirinya adalah simbol nyata yang dapat dicontoh dan dipelajari. Segelumit pikiran yang berjalan-jalan di alam bawah sadarku, terkadang aku tersenyum sendiri. Membayangkan dugong-dugong itu berlatih agar terlihat menyeramkan di hadapan kami.
Kami dilatih untuk mandiri, kami dilatih untuk sadar dengan keadaan. Peka dengan lingkungan. Kami dilatih agar dapat bertahan dalam keadaan apapun. Kami dilatih bertahan dalam medan bencana, bukan di tempat yang dikelilingi kenyamanan dan fasilitas yang sinkron dengan kemewahan. Tidak, tidak seperti itu.
***
Di tengah malam, dingin terasa masuk ke dalam tulang-tulang kering yang kelelahan. Tulang-tulang rusuk bahkan ikut berderik karena terlalu dipaksakan untuk bertahan. Di tengah hutan, kami mendapat amanat membawa sekantung darah yang harus dibawa hingga pos terakhir. Darah harus aman, tidak boleh hilang, terjatuh, pecah, atau bahkan bocor sedikitpun. kami melindunginya dengan segala upaya yang ada. Bertahan dan bertahan.
Kami terus berjalan, melewati setiap lekuk bumi, tanjakan dan turunan yang curam. Sungai yang mengalir deras, struktur tanah yang tidak menentu, harus kami lewati agar sampai hingga pos terakhir. Perjalanan tidaklah mudah, tetapi kami tetap berjalan dan terus berjalan. Kami adalah calon sukarelawan.
Bahkan kami harus memakan mie instan dengan tangan kosong yang sudah disiram dengan air terasi, sedang tangan kiri memegang belatung. Jika aku berpikir ulang, apa maksud semua itu dengan gerakan sukarela?. Namun, aku menemukan jawaban bahwa ketika menolong orang lain, akan ada banyak hal-hal yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan. Bahwa tidak semua yang kita inginkan akan menjadi kenyataan, masih banyak orang-orang di luar sana yang membutuhkan.
***
Hari-haripun berganti, aku masih tetap disini dan menunggu. Aku yang selalu seperti ini, akan tetap seperti ini. Angin melewati setiap sela-sela jariku. Cahaya yang meredup entah di tempat ini atau di hatiku. Aku tetap volunter, kita volunter, kami semua volunter, kita semua volunter. Rangga.
***
27 Mei 2006
“Kita membutuhkan lebih banyak mitela, ini tidak akan cukup” ucap Rangga tergesa-gesa. Aku memegangi erat kaki korban.
“Ini adalah patah tulang terbuka, kita tak akan membiarkannya terus seperti ini. Keadaan akan memburuk, kita tidak bisa memastikan apakah akan ada gempa susulan lagi” tampak jelas kekhawatiran diwajah Rangga, ia terlihat sangat cemas. Sambil membuat cincin dengan menggunakan mitela untuk menutup tulang patah yang terbuka.
“Ini adalah perdarahan serius, kita perlu menghentikan perdarahan agar korban tertolong” ucapku membalas Rangga. Ia tak menoleh, tentu ucapanku sudah ada dikepalanya bahkan tanpa aku menjelaskan kepadanya. Kecakapan dan pengetahuannya tentang pertolongan jauh lebih baik dibandingkan denganku.
“Kita harus hentikan aliran darah keseluruhan” ucap Rangga serius.
“Apa kau gila? Dia anak-anak, jika kita lakukan itu maka kakinya akan diamputasi, apa kau tega melihat anak delapan tahun pergi ke sekolah dengan menggunakan tongkat?” jawabku setengah membentak.
“Lalu apakah kau ingin anak ini tidak besekolah untuk selamanya?” aku hanya terdiam, Rangga benar bahwa jika tidak dilakukan penghentian perdarahan maka nyawa anak ini tidak akan tertolong. Anak laki-laki berusia delapan tahun yang seharusnya sedang asyik bermain layang-layang atau sepak bola bersama teman-temannya di lalapangan. Badannya tergeletak lemah, separuh tertindih reruntuhan bangunan rumahnya, kaki kirinya tertimpa besi penyangga bangunan. Nyarih tak berbentuk, beruntung nyawanya dapat tertolong. Tak lama setelah kami membidai kakinya, ambulans datang dan membawa anak itu untuk tindakan lebih lanjut.
Rumah-rumah, swalayan, tempat ibadah, sekolah, hampir semua rata dengan tanah. Gempa dengan kekuatan 6,2 skala Richter telah meluluh lantakkan semuanya. Gempa yang terjadi pukul 05.55 WIB selama 57 detik itu telah meninggalkan kesedihan bagi setiap orang yang ada di sini. Bahkan kami, mendengar tangis mereka, kedinginan dalam senyap malam. Jika aku mengingat dengan apa yang aku alami ketika pelaksanaan calon anggota, tentu ini tak sebanding. Menjadi relawan ternyata tak mudah.
***
Seminggu berada di Jogja, bukan untuk berlibur atau berbelanja. Kami melihat dari sisi yang berbeda. Menyalurkan tenaga dan bantuan sesuai keahlian kami. Dari sinilah aku belajar, melihat mereka, senyum-senyum yang tersembunyi dalam tenda. Senyum pahit untuk hati yang ketakutan dengan hadirnya malam. Melihat mereka mengingat semua yang terjadi, membuatku ingin menangis.

Suatu hari aku berpikir, bahwa mereka, yang aku tolong, mungkin tidak akan mengingatku atau bahkan hanya mengenal siapa namaku. Tapi bukan itu tujuan kami. Melihat mereka, mengurangi beban yang mereka tanggung, sudah lebih dari cukup bagiku.

“Apakah kau sudah makan?” Rangga membangunkan lamunanku.
“Ah? Sudah” jawabku singkat sambil membenahi bajuku.
“Kau pintar berbohong saat ini” Rangga memberikan roti kepadaku.
“Kau sendiri bahkan tidak tidur selama tiga hari? Apa kau satria baja hitam?” tanpa alasan yang jelas, emosiku meledak seketika. Rangga hanya tertawa.

Aku mengerti bahwa jiwa menolongnya sangat tinggi, tetapi aku hanya ingin ia memperhatikan dirinya sendiri. Bukankah mengutamakan keselamatan diri adalah hal paling penting sebelum menolong?.
“Sudahlah.. pulanglah nanti sore dengan rekan-rekan yang lain, mereka akan berangkat nanti pukul empat” Rangga menepuk bahuku.
“Bagaimana denganmu?” aku bertanya untuk meminta kepastian darinya.
“Aku akan ke Medan terlebih dahulu” Rangga menjawab dengan keyakinan penuh dipikrannya. Terlihat sangat jelas.
“Apa terjadi sesuatu dengan orang tuamu?” aku semakin penasaran.
“Aku akan menemui volunter-volunter di sana, ada beberapa orang dari universitas di Jakarta akan mengadakan pelatihan simulasi di Medan. Aku diminta untuk membantu mengajarkan materi sigap bencana” kalimat-demi kalimat tersusun menjadi narasi kemanusiaan yang indah. aku mendengarnya sebagai sajak-sajak dalam alunan lagu yang mengantarku pada sosok penolong sejati.
“Kita haru berbagi ilmu, walaupun tak banyak” ucap Rangga menambahi perkataannya yang tadi.
Beberapa orang pernah berkata, bahwa tak ada yang lebih hangat dari pelukan dipagi hari, pelukan yang akan memberimu semangat dan sebuah senyuman yang berarti. Rangga memberikannya pada semua korban yang ada di sini. Pada semua yang peduli untuk sedikit berbagi nasib baik.
***
Tepat pukul delapan malam, aku telah sampai di rumah. Tempat tidur nyaman yang lama tak kujumpai. Bergegas ku kirim pesan pada seseorang yang sedang jauh.
To: Rangga
Kapan kau akan berangkat ke Medan?
Aku mencemaskanmu.
Lama Rangga tak membalas, mungkin ia sedang melakukan sesuatu. Karena lelah, aku tertidur dengan lelap. Pagi-pagi sekali aku terbangun, layar handphone adalah benda pertama yang aku sapa.
From: Rangga
Aku akan berangkat siang ini pukul sebelas
Apa ini? Bisa kubayangkan ekspresi datarnya. Namun, aku tetap bersyukur mendapat kabar darinya, setidaknya ada kejelasan.
***
Kecelakaan pesawat dengan rute Jogja-Medan, semua penumpang dinyatakan meninggal.

Headline koran pagi ini. Ingin rasanya aku menghapus semua tulisan yang ada di sana. Bahkan dengan seluruh air mataku, waktu tak dapat diulang. Rangga, apa kau bodoh? Kau menyelamatkan orang lain tetapi kau tak dapat menyelamatkan dirimu sendiri. Kalimat yang selalu kuucapkan untuk menghibur diriku sendiri, sebelum malam kembali datang. Rangga, siamo tuti frutelli, dan tersenyumlah sahabatku.

Kunang Biru © 2008 Por *Templates para Você*